ruangpakar.com
Analisa Tajam, Inspirasi Kehidupan
Renungan

"Orang Gila" yang Mencari Tuhan

"Orang Gila" yang Mencari Tuhan

Pada suatu pagi yang terang, seorang lelaki berlari ke tengah keramaian sambil membawa lentera. Dengan suara lantang ia berseru, “Di mana Tuhan?” Orang-orang yang berada di pasar justru menertawakannya. Mereka merasa pertanyaan itu aneh, sebab bagi mereka Tuhan bukan lagi sesuatu yang penting untuk dicari. Ada yang mengejek, ada yang menganggapnya kehilangan akal, dan ada pula yang sekadar menjadikannya bahan lelucon.

Namun lelaki itu tidak marah. Ia memandang kerumunan dengan wajah penuh keprihatinan. Menurutnya, masyarakat sedang mengalami perubahan besar tanpa menyadarinya. Bukan karena Tuhan telah lenyap, melainkan karena manusia sendiri telah menyingkirkan Tuhan dari pusat kehidupan. Ilmu pengetahuan, kemajuan zaman, dan keyakinan berlebihan terhadap kemampuan manusia membuat banyak orang merasa tidak lagi memerlukan Tuhan sebagai sumber makna, moral, dan pedoman hidup.

Lelaki itu kemudian menggambarkan keadaan dunia seperti sebuah kapal yang kehilangan kompas di tengah lautan luas. Jika tidak ada lagi arah yang menjadi pegangan bersama, bagaimana manusia menentukan mana yang benar dan mana yang salah? Siapa yang akan menjadi penuntun ketika setiap orang mulai menetapkan standar kebenarannya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan itu bukan ditujukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menyadarkan bahwa hilangnya fondasi moral akan membawa konsekuensi besar bagi peradaban.

Di akhir kisah, lelaki itu menyadari bahwa pesan yang dibawanya belum dapat dipahami. Orang-orang masih tertawa karena belum merasakan akibat dari perubahan yang sedang terjadi. Ia pun pergi dengan kesedihan, seolah berkata bahwa zamannya belum siap menerima peringatan tersebut.

Narasi di atas merupakan adaptasi dan ringkasan dari aforisme terkenal “The Madman” atau dalam bahasa Jerman “Der tolle Mensch”, karya filsuf Jerman Friedrich Nietzsche. Kisah ini terdapat dalam buku berjudul Die fröhliche Wissenschaft, judul asli dalam bahasa Jerman yang secara harfiah dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “Ilmu Pengetahuan yang Riang” atau “Kebijaksanaan yang Gembira”. Dalam bahasa Inggris, buku ini dikenal dengan judul The Gay Science. Kata “gay” di sini harus dipahami dalam makna lama, yaitu riang atau gembira, bukan dalam pengertian modern tentang orientasi seksual.

Buku Die fröhliche Wissenschaft pertama kali diterbitkan pada tahun 1882, kemudian diperluas dalam edisi tahun 1887. “The Madman” bukanlah bab dalam arti biasa, melainkan Aforisme Nomor 125, karena karya ini disusun dalam bentuk kumpulan renungan filsafat pendek. Panjang teks aslinya relatif singkat, sekitar 900–1.200 kata, atau kira-kira 3–5 halaman, tergantung edisi, ukuran huruf, dan penerbit. Bagian ini terkenal karena memuat ungkapan kontroversial “God is dead” atau dalam bahasa Jerman “Gott ist tot”. Ungkapan tersebut bukan berarti Tuhan benar-benar mati, melainkan metafora Nietzsche untuk menggambarkan krisis spiritual masyarakat modern yang mulai meninggalkan Tuhan sebagai pusat nilai, moral, dan makna hidup.


Pemalang, 3 Juli 2026

Terbaru di Renungan
Lihat semua →
Perceptual Set : Mengapa Dunia Kita Tak Pernah Seragam
Perceptual Set : Mengapa Dunia Kita Tak Pernah Seragam
12 Jul 2026 · 34x
Nguwongke: Bukan Soal Harga, Tapi Soal Rasa
Nguwongke: Bukan Soal Harga, Tapi Soal Rasa
18 Mar 2026 · 101x
Uji Adab dalam Berbeda Pendapat : Di Mana Level Komunikasi Kita?
Uji Adab dalam Berbeda Pendapat : Di Mana Level Komunikasi Kita?
01 Mar 2026 · 86x
Apa yang Membuat Kita Puas dalam Hidup?
Apa yang Membuat Kita Puas dalam Hidup?
27 Feb 2026 · 93x
Puasa dan Banjir
Puasa dan Banjir
22 Feb 2026 · 74x
Rahasia di Balik Berpikir Saat Puasa
Rahasia di Balik Berpikir Saat Puasa
22 Feb 2026 · 84x