ruangpakar.com
Analisa Tajam, Inspirasi Kehidupan
Inspirasi

Kemudi di Balik Kabut Bandungan

Kemudi di Balik Kabut Bandungan

Malam belum sepenuhnya runtuh ketika Arjun tersentak bangun untuk bersimpuh. Napasnys teratur, namun jantungnya berdegup oleh sejenis kehangatan yang misterius dan membuatnya terpekur. Sebuah mimpi baru saja melintas begitu jernih di sepertiga malam terakhir sebelum subuh, seolah-olah dilapisi warna suasana yang bisa ia sentuh. Angin khusyuk berhembus sejuk. Setelah  bangun duduk dan berdoa sejenak, ia beranjak.  Tempat wudhu yang ia tuju.

Pada suatu hari yang cerah, Arjun duduk tenang di kursi sebelah kiri sebuah mobil jeep berwarna hijau tentara. Mobil itu berjenis SUV, Jeep Wrangler besutan industri mobil raksasa AS. Di samping kanannya, di balik kemudi mobil offroad gagah itu, ada Yahya. Anak laki keduanya itu menyetir dengan amat tenang, lincah dan lihai dalam fokus, membelah jalanan menanjak, menurun, berkelok menuju sebuah tempat wisata yang bertabur bebungaan dan pohon-pohon hijau rindang. Sejuk mata memandang.

Ketika mobil berhenti, mereka bergerak bersamaan, beringsut menuju pintu mobil. Yahya membuka pintu kanan, ayahnya membuka pintu kiri. Mereka turun berbarengan dengan cekatan, menapakkan kaki di atas tanah pinggir jalan dengan perasaan purnatugas yang amat melegakan bagi seorang ayah.

Selepas itu, Arjun menoleh ke arah sajadah di sudut kamar anaknya. Di sana, seorang pemuda sedang melipat kain sarungnya dengan rapi. Dialah Yahya. Dalam pendar lampu kamar yang temaram, ketampanan wajah dan hatinya selalu membuat Arjun bersyukur sebagai ayahnya. Kulit kuning langsatnya bersih; rambut hitam bergelombangnya tertata rapi; dan sepasang mata jeli di bawah alis agak tebalnya, memancarkan keteduhan.

Pagi ini, di hari libur kuliahnya, ia kembali menjaga penampilannya dengan bersih rapi dan wangi, siap menghadap Sang Pencipta. Sembari melantunkan beberapa ayat dari juz Al-Qur'an yang telah tertanam di kepalanya sejak masa berseragam, ia bergumam, "Yaa Allah, teguhkanlah hamba dalam ketaatan kepada-Mu; dan tetapkanlah hatiku di jalan-Mu..."

"Aamiin," Arjun berbisik dari kejauhan.

"Ayah sudah bangun?" suaranya lembut, menyapa dengan simpati yang selalu peka menangkap perubahan gerak-gerik dan kondisi tubuh Arjun. (Dimana suatu ketika pun, ia pernah merajuk haru di hadapan ayahnya, ketika sedang terbaring di ranjangnya: "Yahya perhatikan, ayah belakangan sering sakit?"
"Sudah saatnya, Nak," sahut Arjun, "Pasca suntik vaccine covid-19," lanjutnya, "ayah merasa daya tahan tubuhku berkurang; sering keluar keringat dingin jika dibawa sibuk bekerja atau berhibur dengan tanaman dan bersih-bersih rumah dan lingkungan sekitar. Kata orang bijak juga, makin tua seseorang, makin berkurang pula jatah rezekinya, Nak. Doakan saja ayah akan baik-baik saja, ya.")

Arjun tersenyum, menyembunyikan takjub. Pemuda sehalus ini, bagaimana bisa dalam mimpinya ia mengendarai jeep militer yang begitu perkasa?

Takwil mimpi itu tidak datang dalam semalam. Ia mewujud lewat bentangan waktu, merayap di antara peluh dan air mata yang mereka alami dan rasakan bersama.

Yahya bukan anak manja yang lahir di atas kasur busa dan kursi empuk sofa ruang tamu serta mobil mewah. Sejiwa dengan hobi petualangnya yang suka touring dan mendaki gunung, ia memandang tantangan hidup sebagai puncak yang harus ditaklukkan. Sejak masih mondok di pesantren hingga menembus bangku kuliah, kepalanya selalu berputar mencari cara agar tidak menyusahkan orang tua. Arjun ingat betul hari di mana anaknya pulang membawa sekeranjang pakaian kotor milik teman-temannya.

"Yahya join sama teman, Yah. Buka jasa cuci pakaian kecil-kecilan di kos," ujarnya waktu itu sambil tersenyum tanpa rasa malu. Bibir tipisnya melengkung tulus. "Lumayan buat tambah beli kitab, buku dan jajan  serta tambah-tambah bayar semesteran."

Di saat tangannya mengucek pakaian teman-temannya demi meringankan beban orang tuanya, otaknya tetap melesat tajam. Yahya menutup masa kuliahnya dengan IPK yang hampir mustahil bagi anak sibuk sepertinya: 3,96. Hampir sempurna. Hampir mencapai nilai _summa cum laude_ yang maksimal: 4,00. Tidak hanya itu, ia adalah mantan ketua organisasi mahasiswa, sekretaris remaja masjid, sekaligus pelayan umat.

Jeep hijau tentara dalam mimpi ayahnya, rupanya seperti personifikasi dari mentalnya. Hijau tentara adalah kedisiplinan dan ketangguhan. Jeep adalah simbol kendaraan hidup yang siap menerjang medan secadas apa pun. Yahya telah menempa dirinya sendiri menjadi sopir yang andal bagi masa depannya.

Tahun-tahun bergulir membawa takdir pada porosnya yang langsam lagi nikmat. Bisnis rintisan yang didirikan Yahya setelah lulus—sebuah lembaga pemberdayaan ekonomi umat berbasis pesantren—tumbuh meraksasa. Sifatnya yang mudah bersimpati dan berempati serta pandai mengelola keuangan (berkat pengalamannya menjadi bendahara organisasi dulu, juga belajar berniaga) membuat usahanya berkah dan dicintai banyak orang.

Puncaknya terjadi pada akhir pekan ini. Lembaga bentukan Yahya menerima penghargaan provinsi atas kontribusinya mengentaskan kemiskinan. Acara penganugerahan sekaligus seminar nasional itu digelar di sebuah resor cukup  megah di Bandungan, Semarang.

Sepanjang perjalanan menanjak ke arah Bandungan, Arjun hanya bisa terdiam di kursi penumpang sambil berzikir mengagumi keagungan-Nya. Ngarai perbukitan berkabut, pepohonan hijau terhampar melambai lembut. Jalanan berkelok, menanjak dan  menurun dengan hawa dingin yang mulai menggigit kaca mobil.  Perlahan, ia melempar ingatannya pada mimpi bertahun-tahun lalu. Di sampingnya, Yahya fokus menatap jalan. Hidung bangirnya tampak tegas dari samping. Menampakkan pesonanya. Ia menyetir dengan ketenangan seorang pria matang.

"Kita hampir sampai, Yah. Bandungan agak berkabut sore ini," katanya lembut, memastikan kenyamanan ayahnya. Arjun hanya mengangguk dalam kilas senyum semarnya.

Arjun memandang tangan Yahya yang kokoh memegang setir. Anaknya itu memang rajin olah raga: joging dan fitness dari masa kuliah hingga kini. Ini bukan lagi sekadar mimpi. Arjun benar-benar duduk di sebelah kirinya—posisi yang menurut takwil ulama adalah simbol dari selesainya tugas orang tua. Ia tidak lagi perlu menyetir hidup anaknya. Yahya sudah piawai menyetir kehidupannya sendiri. Tugasnya kini hanyalah duduk dengan tenang, menjaga kesehatan dan tetap olah raga serta memberikan doa restu kepada  anak-anaknya dan menikmati kedamaian masa tua menuju surga bersama nanti. "Aamiin," bisik hati Arjun dalam keyakinan penuh.

Mobil berhenti tepat di lobi resor yang menghadap langsung ke hamparan hijau lereng Gunung Ungaran. Tempat wisata yang berada di ketinggian 900 meter hingga 1.200 meter dpl. Udaranya sejuk semilir, cenderung dingin, segar--bebas dari polusi kota. Dalam hamparan panorama alam lembah pegunungan, tercipta lanskap yang dikelilingi perbukitan hijau dan hutan pinus. Di kejauhan terlihat gunung Merbabu dan Merapi, yang dulu pernah didaki Arjun semasa kuliah dan rumah tangga bermula. Sedangkan dari ketinggian, mereka menikmati kerlap-kerlip air Rawa Pening, siluet Candi Gedong Songo. Tidak terlupa, kebun bunga Celosia yang warna warni pun tampak memanjakan pemandangan yang bening.

Bagaimana bisa, semua ini hampir sama persis seperti yang Arjun saksikan dalam layar tidurnya dulu? Yahya mematikan mesin kendaraannya. Mereka beringsut ke arah pintu mobil secara bersamaan. Di sebelah kanan, Yahya membuka pintunya, turun sebagai pria sukses yang dihormati karena kemuliaan hatinya, bukan karena kekayaan dan kedudukannya.. Di sebelah kiri, Arjun membuka pintunya pula, turun dengan senyum paling merdeka yang pernah ia lakukan sebagai seorang ayah.

Malamnya, di dalam aula besar resor yang dihadiri ratusan pasang mata, Yahya berdiri di podium. Penampilannya malam itu sangat rapi, berwibawa, kharismatis, namun tetap memancarkan kerendahan hati. Sama  tawadhunya seperti dulu ketika masih sebagai seorang santri pondok pesantren. Di tengah-tengah ceramah dan presentasi keberhasilannya membangun sistem ekonomi komunitas, ia berhenti sejenak, menatap para hadirin, lalu melantunkan sebuah syair klasik dengan suara merdu bernada melankolis—sebuah syi'ir dari Kitab Ta'limul Muta'allim karya Syaikh Burhanuddin Al Zarnuji yang sering ia pelajari di pondok pesantren dulu:

أَلَا لَا تَنَالُ الْعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ ۞ سَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانٍ
ذُكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاصْطِبَارٌ وَبُلْغَةٌ ۞ وَإِرْشَادُ أُسْتَاذٍ وَطُوْلُ زَمَانٍ

"Ingatlah, kalian tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam syarat. Akan aku sebutkan kumpulannya dengan jelas: Cerdas, semangat yang tinggi, sabar, memiliki bekal materi, petunjuk guru, dan waktu yang panjang..."

Yahya tersenyum tipis, lalu melanjutkan bicaranya, "Keberhasilan hari ini bukanlah hasil sulap "bim salabim", " _abracadabra_ " semalam. Bekal materi yang dimaksud dalam syair ini tidak selalu berarti serba dicukupi atau pemanjaan dari orang tua. Bagi saya, bekal itu adalah juga cucuran keringat saat mengucek pakaian teman-teman pondok dan kosan demi membeli kitab dan buku-buku serta uang jajan. Bekal itu adalah kesabaran meniti waktu yang panjang, dan yang terpenting: petunjuk serta doa dari guru dan orang tua."

Di sudut kursi VIP, mata Arjun merebak basah. Dadanya bergemuruh oleh rasa haru. Ia merasa bahagia yang tak ternilai harga. Sopir kecilnya yang dari remaja belajar mandiri, kini telah mengarungi samudera kehidupannya menakhodai kapal; telah menjadi anak panah yang tepat sasaran dengan tangan terkepal—dan membawa ayahnya itu—sampai ke puncak kemuliaan di bawah langit wisata Bandungan. Takwil mimpi itu telah tunai dengan begitu indah. "Thank You, Allah..," desis lirih Arjun.

✍️ArtoLatief, Pemalang 060826
*Disklaimer: Cerpen ini tercipta dari kolaborasi kisah nyata dan imajinasi sastrawi (sebagian nyata, sebagian doa harapan orang tua untuk anaknya)

Terbaru di Inspirasi
Lihat semua →
Langut Merindu Masa Lalu
Langut Merindu Masa Lalu
05 Aug 2026 · 81x
Cahaya di Balik Butiran Merah
Cahaya di Balik Butiran Merah
08 Jul 2026 · 58x
GHOSTWRITER
GHOSTWRITER
30 Jun 2026 · 147x
🌼Mimpi Bapak
🌼Mimpi Bapak
29 Jun 2026 · 609x
Evime Dönüyorum, Mas Setyo
Evime Dönüyorum, Mas Setyo
11 Jun 2026 · 1,346x
Syair Seorang Ayah (2)
Syair Seorang Ayah (2)
04 Jun 2026 · 273x
Syair Seorang Ayah
Syair Seorang Ayah
03 Jun 2026 · 216x
Di Sirandu, Kembali Bertemu
Di Sirandu, Kembali Bertemu
30 May 2026 · 1,200x