ruangpakar.com
Analisa Tajam, Inspirasi Kehidupan
Inspirasi

Langut Merindu Masa Lalu

Langut Merindu Masa Lalu

Duduk pada kursi besi peron, di ruang tunggu stasiun Pemalang yang bersih lagi nyaman, seorang lelaki paruh baya,    Abimanyu, sedang menunggu. Terpaku. Termenung. Diam bagai sungai dalam yang berpalung. Ketika datang tadi, langkahnya sedikit gontai melayang. Lantai mengilat yang ia pijak di bawahnya, memantulkan tubuhnya yang sudah tampak renta untuk berjuang.

Jam dinding stasiun menunjukkan jelang pukul enam pagi. Ia sengaja ke stasiun lebih awal sekali.  Smartphone-nya terpegang erat di tangan kirinya, namun layarnya gelap. Sesekali ia memandang lurus ke depan, menatap rel-rel besi kereta; sesekali memandang ke bawah, menatap retakan halus  pada sepatu kulit Asli miliknya; sesekali menoleh ke arah timur jauh sana, mengikuti alur bentangan rel kereta, menembus batas pandangan ke tempat ia dulu dibesarkan kedua orang tuanya. Hidup damai dalam keluarga sederhana namun tidak pernah kekurangan suatu apa. Sejak kecil bergelut dengan lumpur sawah. Menaiki kerbau dan alat bajak sawah, weluku , simbah-nya. Menginjak sekolah menengah, membantu ayahnya merawat dan menjaga tanaman padi. Mencabuti rumput ( matun ), mengorok dapur sawah. Ketika padi mulai berbuah, ia menjaganya dari teror kawanan burung. Itu ia lakukan sebelum dan sepulang sekolah. Sementara ibunya memetik bunga melati di kebun tidak jauh dari sawahnya.

Sejenak kemudian, ia menunduk. Wajahnya tertekuk. Ia terlihat menjadi gelisah. Mengiringi semburat fajar di ufuk timur sana yang memerah. Sementara matanya tampak sembab basah.

Entah apa yang sedang dipikirkan dan ditunggunya. Menunggu seseorang yang lama tidak bertemu atau kereta api yang akan tiba, atau menunggu masa lalu yang diharap bisa kembali juga?

Ia jadi teringat dua penggal kalimat dalam sebuah tulisan adiknya, yang seorang penulis, juga pegawai pemerintah: "Ada orang yang menunggu seseorang yang dirindukan; ada juga orang yang merindukan suatu masa ketika hidup terasa lebih sederhana, dan tidak serumit sekarang, bukan?"

Kereta api Joglosemarkerto yang akan membawanya pergi ke Yogyakarta, dijadwalkan akan tiba beberapa jam lagi. Namun, binar di matanya tidak menunjukkan  ketidaksabaran seorang calon penumpang. Sorot matanya mengambang, seperti kebanyakan rakyat    negara ini yang mengalami ketidakpastian untuk berkembang. Sorot mata itu, seolah bukan sedang menunggu kereta api atau  tibanya seseorang,    melainkan sedang menunggu keserbasederhanaan masa lalu yang ia harap bisa kembali datang.

Ia menghela napas panjang. Dadanya seperti habis dihantam gada Bima (Hehe, hyperbola amat...), ketika sapuan pandangan matanya memperhatikan sekilas aktifitas calon penumpang lain di sekelilingnya. Orang-orang pada sibuk sendiri dengan gawai pintar. Acuh sekitar. Tiap detik terdengar suara notis pesan masuk atau dering panggilan dan nada getar.  Dua puluh tahun yang lalu, ketika ia masih SMA, tidak ada calon penumpang berlari diburu waktu menuju anjangan cetak ticket di lobi stasiun; tidak ada denting dering gawai pintar yang terus menerus menuntut perhatian intens; tidak ada tumpukan data berkas kerjaan di handphone dan laptopnya; tidak ada tagihan angsuran rumah dan kendaraan yang mengusik ketenangannya.

Dulu, stasiun ini hanyalah saksi bisu tempat ia melepas tawa riang sanda gurau bersama teman-teman masa remajanya. Tempat ia membeli jajan pada para abang asongan.

Kini, di suasana kenyamanan stasiun yang sudah modern dan rapi--hasil kinerja bagus Menteri Jonan--ia justru merasa asing. Katanya, modernistas memberikan kemudahan, namun entah mengapa ia justru merasakannya sebagai perenggut kesederhanaan. Kesederhanaan yang telah merawat jiwa dan melayani kehidupannya selama berpuluh tahun lamanya. Ia merindukan masa-masa ketika bahagia hanya berjarak sepotong kue kamir dan oborolan tanpa sekat di teras rumah bersama tetangga.

Suara merdu wanita dari pengeras suara stasiun tiba-tiba memecah langut lamunannya, mengumumkan kereta yang dinantinya akan segera masuk di jalur satu. Abimanyu tersenyum tipis. Sebuah senyum yang getir. Ia tahu, masa lalu tidak akan pernah berjalan mundur. Pria paruh baya itu segera berdiri, mengantongi Smartphone-nya, lalu melangkah mendekati garis aman peron. Ia bersiap naik ke atas kereta, membawa rindu akan masa lalu yang sederhana itu tetap hidup di dalam jiwanya.

✍️ArtoLatief/050726

Disklimer: Cerita ini hanya fiktif semata. Jika ada nama dan cerita yang sama dengan pembaca, semata  kebetulan saja.

Terbaru di Inspirasi
Lihat semua →
Kemudi di Balik Kabut Bandungan
Kemudi di Balik Kabut Bandungan
10 Aug 2026 · 38x
Cahaya di Balik Butiran Merah
Cahaya di Balik Butiran Merah
08 Jul 2026 · 58x
GHOSTWRITER
GHOSTWRITER
30 Jun 2026 · 147x
🌼Mimpi Bapak
🌼Mimpi Bapak
29 Jun 2026 · 609x
Evime Dönüyorum, Mas Setyo
Evime Dönüyorum, Mas Setyo
11 Jun 2026 · 1,346x
Syair Seorang Ayah (2)
Syair Seorang Ayah (2)
04 Jun 2026 · 272x
Syair Seorang Ayah
Syair Seorang Ayah
03 Jun 2026 · 215x
Di Sirandu, Kembali Bertemu
Di Sirandu, Kembali Bertemu
30 May 2026 · 1,199x