ruangpakar.com
Analisa Tajam, Inspirasi Kehidupan
Inspirasi

๐—ฉ๐—ผ๐—ถ๐—ฐ๐—ฒ ๐—ก๐—ผ๐˜๐—ฒ ๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ธ๐—ต๐—ถ๐—ฟ ๐——๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—œ๐—ฏ๐˜‚

๐—ฉ๐—ผ๐—ถ๐—ฐ๐—ฒ ๐—ก๐—ผ๐˜๐—ฒ ๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ธ๐—ต๐—ถ๐—ฟ ๐——๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—œ๐—ฏ๐˜‚

Bulan setengah bulat menelusup ke dalam  gerumbulan awan putih. Menyemburat suar cahaya  redup di luasan cakrawala. 

Simpony nyanyi  jangkrik berdenyit nyaring dari selokan depan deretan kamar-kamar kost yang dihuni para karyawan pabrik sebuah kawasan industri di barat kota Karawang. Suaranya jernih, di malam yang lengang. 

Hawa dingin dan basah di akhir bulan Desember, akan membuat orang-orang berasa lebih nyaman rebahan, sambil scroll-an layar gawai atau tidur lesah lelah setelah berkegiatan, bekerja seharian. Memenuhi kewajiban-kewajiban. Sebagai ayah. Sebagai ibu. Sebagai anak.

Amri masih duduk di kursi kamar kostnya. Matanya masih menatap layar gawai.  Di kedua  telinganya terpasang headphone. Jemarinya menekan tombol sisi kanan, sedikit membesarkan volume suaranya. Wajahnya meremang muram. Matanya bersaput kabut kesedihan dalam rindu. Air mata perlahan meleleh di kedua sudut mata mudanya. Tangisnya hampir pecah. 

Beberapa Voice Note singkat dari ibunya. Ia akan putar berkali-kali. Saat kepalanya sedang riuh oleh beban pekerjaan. Masalah hidup yang sedang silih berkelindan. Seakan dada terdedah.  Saat itulah, jiwanya sangat merindukan ibu. Mendengar suaranya, terasa cukup mengobati lara. Gairah hidup terlecut kembali.

" Sudah tiga bulan...kamu tak pulang, Nak. 
Kamu tak merindukan masakan Ibu, ya?" 

Masakan ibunya seperti bebek rica-rica, atau tempe kukus ukuran dadu berbalur parutan kelapa, sangat sedap di lidahnya. Dan tentu yang utama, kasih sayang ibunya. Itu semua menambah semangatnya untuk segera pulang.

Maka di hari libur kerja berikutnya, ia memesan tiket KA Karawang -Pemalang. Pulang. Seraya bergegas menuju stasiun ia berdendang lirih lagu Franky & Jane:  _Dengan kereta malam kupulang sendiri/mengikuti rasa rindu/pada kampung halamanku/pada ayah yang menunggu/pada ibu yang mengasihi..._ 

Biasanya ia menaiki KA Jayabaya jurusan Jakarta-Malang, atau KA Tawang Jaya. Perjalanan dari stasiun Karawang sampai Pemalang akan memakan waktu 3 jam 33 menit.

Lain waktu ibunya berkirim pesan suara lagi, ketika sudah empat bulan belum menyempatkan pulang juga,
"Nak,...masih ingat jalan pulang ke rumahmu kan?" Maka dia akan melihat kalender di meja, kapan terakhir bertemu ibunya di di kampung halamannya, Pemalang. Dia tersadar, pantas ibunya mengingatkannya untuk pulang. 
Ibunya jarang berkirim WA. Jika berkirim pun pasti bukan dengan pesan teks, tapi pesan suara. Dan isinya tentang merajuk dirinya secara halus untuk menyempatkan pulang : kerumah masa kecilnya. Rumah penuh haru biru kenangan indah dan duka. Bertemu ibu dan bapak, juga Sari, adiknya yang masih sekolah  di bangku SMA.

Dua tahun lalu, saat tubuh masih merebah lelah di kamar kost.nya. Ada pesan suara ibu masuk. Suaranya terdengar agak serak dan sedikit bergetar:
โ€œNakโ€ฆ besok lusa jadi pulang kan? Hati-hati di jalan, ya โ€
Mendengar pesan suara ibunya kali ini, entah  seperti ada tarikan halus di perasaanya. Rasa sedih yang menyesak di dadanya. Ada yang membuatnya tiba-tiba tidak nyaman, khawatir dan ingin segera berjumpa ibunya. Mencium punggung tangannya, dan memeluknya penuh haru cinta.

Apakah itu firasat hati orang yang terhubung dengan jiwa  yang sangat dicintainya? Ternyata itu tak pernah luput. Di perjalanan pulang saat masih berada di KA, adiknya berkabar duka yang tiba-tiba, jika ibunya telah meninggal. INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI'UN. Ibunya terpeleset di halaman berlumut yang licin oleh air hujan. Jatuh, kepalanya membentur batu. Tak sadarkan diri. Koma hingga meninggal.

 _Allahummaghfirlaha warhamha wa 'afiha wa'fu 'anha..._ 

Sepeninggal ibunya, kadang saat malam, ketika ada beban yang seakan tak sanggup dipikul; dan perasaan yang menyesak di dada, ia akan memutar semua pesan suara ibunya. 
๐‡๐š๐ง๐ฒ๐š ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ฆ๐ž๐ง๐๐ž๐ง๐ ๐š๐ซ ๐ฌ๐ž๐ฌ๐ž๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฆ๐ž๐ฆ๐š๐ง๐ ๐ ๐ข๐ฅ๐ง๐ฒ๐š โ€œ๐๐š๐คโ€. 
๐‡๐š๐ง๐ฒ๐š ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ฆ๐ž๐ง๐๐ž๐ง๐ ๐š๐ซ ๐ฌ๐ฎ๐š๐ซ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฉ๐š๐ฅ๐ข๐ง๐  ๐ง๐ฒ๐š๐ฆ๐š๐ง ๐๐ข๐๐ž๐ง๐ ๐š๐ซ : ๐ฌ๐ž๐ฃ๐š๐ค ๐ฌ๐š๐š๐ญ ๐›๐š๐ฒ๐ข, ๐ฆ๐š๐ฌ๐š ๐ค๐š๐ง๐š๐ค ๐๐š๐ง ๐๐ข ๐ฌ๐ž๐ฅ๐ฎ๐ซ๐ฎ๐ก ๐ก๐ข๐๐ฎ๐ฉ๐ง๐ฒ๐š.
Juga untuk mengingat, bahwa dulu ia pernah dicintai begitu dalam, pernah punya tempat pulang sesungguhnya : IBU.
Matanya sembab, pipinya basah. Ingus bening pun keluar dari hidungnya. Dan tangis pun pecah tak bisa ia bendung.

Dadanya sesak oleh rindu dendam: pada IBU yang selalu mengasihi dalam marah dan diamnya. 

Di luar kamar kostnya, hujan mulai menderai.
Lampu di beranda dikitari puluhan laron, dengan kepak sayap mungil yang melambai-lambai. 

D'Latif

๐ŸŒฟKarawang, 031225

Terbaru di Inspirasi
Lihat semua โ†’
Kemudi di Balik Kabut Bandungan
Kemudi di Balik Kabut Bandungan
10 Aug 2026 ยท 41x
Langut Merindu Masa Lalu
Langut Merindu Masa Lalu
05 Aug 2026 ยท 82x
Cahaya di Balik Butiran Merah
Cahaya di Balik Butiran Merah
08 Jul 2026 ยท 59x
GHOSTWRITER
GHOSTWRITER
30 Jun 2026 ยท 149x
๐ŸŒผMimpi Bapak
๐ŸŒผMimpi Bapak
29 Jun 2026 ยท 611x
Evime Dรถnรผyorum, Mas Setyo
Evime Dรถnรผyorum, Mas Setyo
11 Jun 2026 ยท 1,347x
Syair Seorang Ayah (2)
Syair Seorang Ayah (2)
04 Jun 2026 ยท 273x
Syair Seorang Ayah
Syair Seorang Ayah
03 Jun 2026 ยท 217x