Dahulu, rumah besar berlantai dua yang berarsitektur modern itu adalah istana tempat cinta mereka bertunas subur. Bunga-bunga kehidupan bermekaran menjamur. Wangi semerbak memperpanjang umur. Wewangian memberikan efek semangat. Mencegah otak mampat.
Ketika Wisanggeni berada di puncak kejayaan sebagai pengusaha sukses, ranjang pernikahan mereka selalu harum oleh kelopak mawar dan melati berpadu tawa renyah Yuyun. Bagi Wisanggeni, Yuyun adalah jangkar batinnya. Penguat passion hidupnya. Wanita itu selalu menggenggam jemarinya dengan lembut, berbisik bahwa dunia akan baik-baik saja selama mereka bersama. Ia menggelontori istrinya itu dengan segala kemewahan duniawi: perhiasan emas aneka rupa, mobil-mobil teras atas dan perkakas rumah berkelas. Ia mengira pondasi mahligai rumah tangganya telah sekokoh batu karang di samudera atlantik yang super keras.
Ternyata, badai yang tak kasatmata datang tanpa mengetuk pintu dan tiada terjadwal di kalender. Pandemi COVID-19 menerjang seluruh negeri laksana kabut hitam yang merenggut napas kehidupan. Satu per satu relasi perusahaan Wisanggeni tumbang. Ruang kerjanya yang biasa riuh oleh kesepakatan bisnis berubah sunyi, menyisakan tumpukan surat tagihan yang menggunung. Istana kejayaannya runtuh dalam beberapa bulan, menyisakan puing-puing utang yang mengubur seluruh harta tertabung.
Seketika itu pula, kehangatan di mata Yuyun meredup. Senyum manisnya dengan cepat layu untuk kemudian mengering pilu tertangkup. Ritme kehidupan digantikan beragam keluhan yang menghunus tajam seperti sembilu bambu.
Di saat Wisanggeni terdesak, Yuyun justru memaksa untuk menjual seluruh aset kerajaan bisnisnya yang tersisa. Satu per satu mobil yang dulu dibeli dari kucuran peluh Wisanggeni dijual oleh Yuyun, bukan untuk menyelamatkan bisnis suaminya, melainkan untuk mengamankan kenyamanan hidupnya sendiri. Ia mencoba membangun usaha ritel secara mandiri. Berusaha mengubur peran suami. Cinta yang dahulu dikira oleh Wisanggeni sedalam lautan, ternyata hanya mengapung rapuh bagai buih di atas permukaan air di bibir pantai yang riuh.
Tanpa disangka, suatu hari tiba-tiba di atas meja makan yang kini tanpa hidangan mewah, Yuyun melemparkan berlembar kertas putih berstempel pengadilan agama tepat di depan Wisanggeni duduk: Sebuah berkas gugatan cerai!
"Aku mencintaimu saat kita bisa terbang bersama dalam kesenangan, Wis," bisik Yuyun dingin, dengan mata yang tak lagi berani menatap sepasang mata suaminya yang meski telah layu sendu. Tatap mata penuh kedustaan cinta palsu. "Tapi, kini," lanjut Yuyun, "aku tidak sanggup lagi merangkak di lantai kemiskinan bersamamu. Memangnya kita hidup bisa tetap bertahan hanya dengan memakan cinta?!"
"Namun sebaliknya juga," sahut Wisanggeni tajam, "pengalaman hidup mengajarkan kita bahwa harta adakalanya tidak bisa menyuap cinta! Banyak wanita yang tidak bisa dibeli dengan harta. Banyak pasangan hidup bermandi cahaya emas permata tidak bisa mempertahankan cahaya cintanya. Biduk rumah tangga pecah berserak lalu tenggelam di samudera kehidupan yang culas. Bukan begitu?!"
Wisanggeni lalu menatap goresan tinta di atas kertas putih itu dengan dada yang luluh lantak bergemuruh. Gemuruh bukan karena diputus cinta, tapi menyesal dulu terburu menerima tawaran adiknya untuk menerimanya sebagai istri bagai manis berbalur madu, indah bermandi bunga mawar ungu. Ternyata ia telah tertipu.
Pandemi telah merenggut seluruh imperium bisnisnya, namun kepergian Yuyun merenggut separuh jiwanya. Di pelataran pengadilan yang panas, Yuyun melepaskan diri dari kejatuhan Wisanggeni yang dingin membeku. Ia berlari ke pelukan hangat seorang lelaki lain, seorang pria perlente yang menjanjikannya kebahagiaan baru. Wisanggeni awalnya dengan berat hati menandatangani surat itu. Air mata jatuh tanpa suara. Namun ia kemudian dengan mantap dan teguh hati menandatangani surat cerai itu, setelah mencerna pendapat adik-adiknya. Mereka seperti bersepakat dalam pendapat: "Buat apa istri semacam itu dipertahankan?!" Ia pun menyadari satu hal yang teramat perih: saat badai menghancurkan hartanya, badai itu juga menelanjangi kepalsuan cinta istrinya yang selama ini ia puja puji.
Tak butuh waktu lama bagi Yuyun untuk merajut mahligai pernikahan baru dengan pria lain. Sejak gadisnya, ia sudah dikenal sebagai wanita gonta- ganti lelaki. Apa yang Wisanggeni kira sebagai emas murni, ternyata hanyalah sepuhan palsu terpatri.
Suami baru Yuyun, Ucup, seorang lelaki yang bermodal wajah tampan dan bermulut manis-lamis, adalah seorang penipu ulung yang menjadikannya budak asmara sementara saja. Setelah menikahinya, ia menguras sisa-sisa harta dan perhiasan Yuyun. Lalu, lelaki itu menghilang bak uap di udara, menyisakan jejak pelarian menuju kota Bandung.
Didorong oleh rasa tidak terima dan sisa-sisa harapan yang retak, Yuyun mengejar bayang-bayang suaminya hingga ke Kota Kembang. Di bawah langit Kota Lautan Api yang mendung dan dingin, di sebuah sudut kontrakan sempit, Yuyun akhirnya menemukan suaminya.
"Pulanglah bersamaku ke kampung," ratap Yuyun, air matanya luruh membasahi bumi yang asing. "Kita rajut lagi semuanya dari awal."
Lelaki itu tersenyum. Seulas senyum yang tak lagi hangat, melainkan penuh dengan duri tipu muslihat. "Aku tidak akan pernah kembali ke kampung yang sawah-sawah telah menjadi rawa-rawa itu, Yun. Jika kau ingin aku tetap menjadi suamimu, jual saja rumah warisan orang tuamu di kampung. Serahkan uangnya padaku, kita beli rumah baru dan bangun usaha di kota ini."
Cinta yang membuat telinga batin Yuyun tuli, demi mempertahankan sebuah status dan ego, ia pulang dan tega menjual satu-satunya rumah tanah leluhur—rumah gedung penuh kenangan tempatnya dibesarkan dengan kasih sayang oleh orang tuanya dahulu. Lembar demi lembar uang hasil penjualan rumah itu ia serahkan ke tangan sang suami di Bandung dengan binar harapan yang rapuh.
Namun, dunia laksana panggung sandiwara yang kejam bagi mereka yang menukar ketulusan dengan angka-angka rupiah. Hanya berselang satu malam setelah uang itu berpindah tangan, lelaki itu lenyap tanpa jejak arah. Kamar kontrakan itu kosong melompong. Suami barunya telah melarikan diri entah ke mana, membawa pergi seluruh harta, harga diri, dan masa depan Yuyun.
Kini, Yuyun berdiri sebatang kara di tengah riuhnya jalanan kota Bandung yang asing dan dingin. Hujan turun membasahi tubuhnya yang gemetar, menyamarkan air mata penyesalan yang mengalir deras. Ia telah kehilangan segalanya: Wisanggeni yang tulus, rumah warisan yang suci, hingga harta yang selalu ia dewa-dewakan. Jiwanya kosong, sekosong dompet dan masa depannya yang kini hancur lebur di aspal jalanan, melompong.
Sementara itu, jauh di sudut kampung halaman, waktu telah menyembuhkan luka. Sisa-sisa badai pandemi telah berlalu, menyisakan langit yang kembali bersih. Wisanggeni, dengan ketabahan hati yang luar biasa, perlahan bangkit dari puing-puing kebangkrutan. Bermodalkan sisa tabungan kecil dan aset yang bisa dijual, cucuran peluh dan air mata lelaki yang tak terlihat, ia merintis dan mengelola usaha baru di bidang distribusi logistik pangan. Sesuatu yang sangat dibutuhkan pasca-pandemi.
Ketekunan dan kejujurannya membuahkan kepercayaan lagi relasi usaha. Roda bisnisnya kembali berputar perlahan. Kian lama kian kencang, menanjak dengan cepat, bahkan berkembang jauh lebih besar dan stabil daripada masa lalunya, ketika berhasil membangun rumah megah berlantai dua di Jakarta dan merehab total rumah orang tua. Keberhasilan ini tidak ia gunakan untuk pamer kemewahan kosong. Monumen pertama dari kebangkitannya adalah melanjutkan pembangunan rumah orang tuanya di kampung yang sempat terbengkalai. Lantai dua yang tertunda.
Wisanggeni merombak rumah gedung tua sederhana itu menjadi bangunan dua lantai yang kokoh dan megah. Namun, kemegahan itu murni didedikasikan untuk kehangatan keluarga besarnya. Seorang ibu dan keluarganya serta adik-adiknya. Di lantai dua rumah tersebut, ia sengaja mendesain beberapa kamar tidur yang luas, nyaman, dan selalu rapi. Kamar-kamar itu dipersiapkan khusus untuk adik-adik dan para keponakannya tercinta ketika musim mudik tiba atau saat mereka sekadar berkunjung melepas rindu ke kampung halaman. Suasana sepi di masa lalu kini berganti riuh tawa bocah-bocah yang berlarian setiap kali keluarga besarnya berkumpul. Keponakannya ada yang menjadi dokter, dosen, ahli IT, psikolog dan pengusaha.
Tak hanya itu, garasi rumahnya kini tidak lagi kosong. Satu per satu, Wisanggeni kembali membeli kendaraan operasional dan mobil pribadi baru pilihannya. Kehadiran mobil-mobil baru itu seolah menjadi simbol penutup luka masa lalu, menggantikan kendaraan yang dahulu dipaksa jual oleh mantan istrinya saat ia jatuh terpuruk.
Wisanggeni kini berdiri di balkon lantai dua rumah orang tuanya, memandang matahari terbit yang menghangatkan bumi sembari mendengar suara tawa anak-anak dan keponakannya dari balik jendela kamar. Ia tersenyum lembut, bukan karena tumpukan harta yang kembali ia miliki, melainkan karena keikhlasan hati yang telah membebaskannya dari kesempitan hidup. Ia menyadari sepenuhnya bahwa badai besar beberapa tahun lalu tidak datang untuk menghancurkan hidupnya, melainkan untuk menyapu bersih cinta palsu dari sisinya, menyisakan ruang bagi jiwa yang kini telah merdeka bersama mereka yang benar-benar tulus mencintainya.
✍️ArtoLatief, Pemalang 220826
Disklaimer: Cerpen ini adalah antara kisah nyata dan imajinasi sastrawi doa harapan
Inspirasi
Antara Cinta dan Harta
Terbaru di Inspirasi
Lihat semua →
SANG PENJAGA ITU...
07 Sep 2026
· 126x
Kemudi di Balik Kabut Bandungan
10 Aug 2026
· 100x
Langut Merindu Masa Lalu
05 Aug 2026
· 136x
Cahaya di Balik Butiran Merah
08 Jul 2026
· 112x
GHOSTWRITER
30 Jun 2026
· 198x
🌼Mimpi Bapak
29 Jun 2026
· 661x
Evime Dönüyorum, Mas Setyo
11 Jun 2026
· 1,406x
Syair Seorang Ayah (2)
04 Jun 2026
· 318x