Kala itu, tahun dua ribuan. Saat 'ramalan' lagu Nasida Ria hampir sepenuhnya terjadi:
...
Tahun dua ribu kerja serbamesin
Berjalan berlari menggunakan mesin
Manusia tidur berkawan mesin,
Makan dan minum dilayani mesin
Sungguh mengagumkan tahun dua ribu
Namun demikian penuh tantangan
Penduduk makin banyak, sawah ladang menyempit
Mencari nafkah smakin sulit
Tenaga manusia banyak diganti mesin
Pengangguran merajalela
Sawah ditanami gedung dan gudang (juga perumahan)
Hutan ditebang jadi pemukiman (dan ladang)
Langit suram udara panas akibat pencemaran (kelabu...)
...
Perumahan Cangklik Baru, di sebelah timur Tugu Sirandu, adalah sepotong mozaik kecil di kota Pemalang yang mulai terjamah riuh bising klakson perkotaan. Di depan rumah kami, hamparan sawah membentang. Bagai permadani hijau yang tak bertepi, bersanding rindu dengan kebun luas yang rimbun oleh pepohonan mangga dan pisang.
Pagi hari di perumahan ini selalu hadir dengan keanggunan yang magis. Angin sejuk berembus sepoi-sepoi, membisikkan salam damai menerobos celah jendela setelah membelai dedaunan di luar, dengan kelembutan yang menenteramkan jiwa dan raga. Di pucuk-pucuk ranting pepohonan, burung-burung kecil mulai berkicau saling bersahutan, melantunkan simfoni alam menyambut hari yang baru. Sementara itu, langit cerah merayu dengan rona asrinya, membingkai sang primadona di ufuk selatan yang biru: Gunung Slamet yang berdiri nan jauh disana, tampak biru juga, lagi gagah. Puncaknya berselimut awan putih tipis, bagai lukisan abadi yang sengaja Tuhan bentangkan di depan tempat jemuran lantai dua rumah kami.
Namun, keindahan yang puitis di luar rumah itu terasa kontras dengan badai kecil yang mulai berkecamuk di lantai bawah.
Toko "Bismillah" saat itu sedang berada di puncak kejayaannya. Pesanan pelanggan ter-list panjang. Buku-buku agama yang lagi booming, buku pelajaran, barisan kaset tape, hingga tumpukan Video CD (VCD) murottal dan ceramah dai kondang semisal Aa Gym, Zakir Naik, Uje dan lain-lain, memenuhi sudut rak secara rapi. Itu menandakan ramainya para pencari hiburan religi dan ilmu yang singgah saban hari.
Setiap malam, setelah riuh pembeli mereda dan pintu toko yang terletak di jantung kota, Jl. A. Yani, dikunci rapat, aku pulang dan kubawa uang serta. Sebelum tidur, aku duduk terkurung sepi untuk menghitung uang setoran bagi para supplier pagi harinya. Lembar demi lembar aku susun dan hitung dengan ketelitian tinggi. Setelah itu, aku ikat kencang uangnya dengan karet gelang sebelum dibenamkan ke dalam laci lemari kamar tidur serta dikunci rapat.
Tetapi, malam yang sunyi selalu menyisakan misteri di pagi harinya.
Ketika gepokan uang itu berpindah ke meja teller bank, jemari sang petugas menghitungnya kembali. Dan di sanalah keanehan itu merayap. Jumlahnya selalu kurang. Kadang menguap seratus ribu, lenyap dua ratus ribu, atau menyusut lima puluh ribu rupiah.
Karena uang tetap hilang, yang jika dihitung-hitung sudah jutaan rupiah hilang misterius, aku memutuskan berganti cara menyimpan uang: uang yang sudah terbengket kenceng kuajak tidur bersama. Uang dalam pelukan. Lucu, naif atau ironi aku ini?
Pagi harinya, sebelum setor menuju bank BCA di Jl. Jend. Sudirman, aku hitung kembali uangnya. Merajuk kaget aku: uang tetap hilang!
Awalnya, aku menuduh diri sendiri. "Mungkin jemariku yang alpa karena kantuk yang menggelayut dalam rutuk," bisikku menenangkan hati. Namun, waktu membuktikan bahwa ini bukanlah sekadar salah hitung. Kejadian itu berulang dan terus berulang. Malam hari dihitung pas, pagi hari raib tanpa bekas. Kedamaian Cangklik Baru yang syahdu perlahan mulai terusik oleh kabut kegelisahan yang kian menebal di dalam dada. Resah.
"Ada yang mengganggu secara gaib, Nak," ucap Bapak pada suatu malam kepadaku, memecah keheningan rumah.
Bapak terdiam, menatap kosong pada temaram lampu ruangan sebelum akhirnya berbisik dengan nada yang teramat berat. "Carilah kiai yang 'pintar', Nak. Seseorang yang memiliki mata batin untuk melihat apa yang tak kasatmata."
Aku sementara mendengar saja, agak terheran.
"Kalau kamu mau, aku antar ke kiai Saleh," sambung Bapak lagi.
Aku agak paham, orang yang dimaksud oleh Bapak. Orang-orang menyebutnya sebagai 'kiai pinter', tapi aku menganggapnya sebagai 'kiai dukun'. Ia bermain di ranah mistis: bisa menerawang barang yang hilang ada dimana; uang yang hilang yang mengambil siapa...
Seketika telapak tanganku dingin mendadak. Jiwaku menolak mentah-mentah. Hati imanku menentang telak.
"Tidak mau, Pak," jawabku, meluncurkan ucapan ketegasan penolakan di antara rasa hormat. "Aku teramat takut pada dosa syirik. Jika rezeki yang ada di tokoku adalah titipan murni dari Gusti Allah, maka biarlah Sang Pemilik Agung itu sendiri yang menjaganya," tegasku.
Bapak hanya mengangguk pelan dalam keheningan. Beliau tidak mendebat, membiarkan prinsip tauhidku tetap lurus dan selamat di dalam hatiku.
Malam itu, malam ketiga setelah percakapan dengan Bapak, perumahan Cangklik Baru seolah tenggelam dalam kesunyian yang mencekam. Angin malam berdesir dingin, menyapu pesawahan dan kebun luas di depan rumah. Ia mengetuk dinding-dinding tembok, kaca-kaca jendela dan kayu pintu dengan sisa kebekuan. Mataku enggan terpejam. Di atas kasur ranjang, uang setoran itu telah aku hitung hingga tiga kali putaran. Jumlahnya genap, tak kurang sepeser seribuan pun.
Setelah itu, aku ambil resolusi: aku taruh uang itu di lemari, di sela tumpukan pakaian. Sambil menaruh uang itu, dalam hati aku berserah total kepada Allah dan berbisilk lirih lembut: "Yaa Allah, hamba serahkan penjagaan uang ini hanya kepada-Mu. A'ūdzu bikalimātillāhit-tāmmati min syarri mā khalaq."
Alih-alih mengunci laci lemari seperti sebelum-sebelumnya dengan rasa cemas, aku kini melangkah menuju sajadah yang telah terbentang dengan rasa tenang. Aku pasrahkan jiwa raga ini dalam sujud yang teramat dalam lagi panjang. Di atas hamparan rajutan sajadah Turki itu, pertahanan jiwaku runtuh. Air mata mengalir deras, membasahi tempat sujud di tengah keheningan malam Pemalang yang kian larut.
"Yaa Allah..." suara saya bergetar hebat, tercekat oleh isak yang tertahan di tenggorokan. "Hamba serahkan seluruh jiwa dan raga ini kepada-Mu... atas penjagaan harta yang Engkau titipkan kepada hamba yang fakir ini... Engkau yang Memiliki segalanya, Engkau pula yang berhak Menjaga. Aku hanyalah hamba yang dititipi."
Usai untaian doa itu terucap, sebuah rasa aneh nan ajaib merayap masuk ke dalam relung dada. Hati yang semula bergemuruh penuh kecemasan mendadak berubah menjadi kian teramat adem dan tenang. Sakinah. Kedamaian yang magis menyelubungi ruangan, seolah-olah ada 'Pasukan Langit' yang kini tengah berdiri mengitari sudut-sudut rumah untuk berjaga.
Keesokan paginya, fajar menyingsing dengan keanggunan yang luar biasa di Cangklik Baru. Sinar matahari keemasan menyiram hamparan sawah dan kebun, sementara angin sepoi kembali berbisik mesra di antara kicau burung yang kian riang. Aku meluncur menuju bank, tanpa membawa rasa khawatir sedikit pun di bilik hati terdalam.
Di hadapan meja teller, ikatan karet bungkusan uang itu dilepas. Jemari sang teller bergerak dengan ritme yang cepat, menghitung lembar demi lembar uang dengan mesin hitung uang, tepat di depan mataku yang tak berkedip. Jantungku berdegup normal, berirama dengan detak jarum jam dinding bank.
Petugas itu mendongak, lalu mengulas senyum ramah. "Pas, Pak. Jumlahnya lunas, sesuai dengan catatan."
Aku terpaku, kelu seribu bahasa. Ada rasa haru yang membuncah hingga ke ubun-ubun kepalaku.
Keesokan harinya lagi, aku mengulang kepasrahan yang sama. Hasilnya tetap sempurna. Seminggu, sebulan, hingga edaran tahun berganti, uang toko yang aku bawa pulang tidak pernah lagi berkurang selembar pun. Hilang misterius itu sirna selamanya. Namun yang benar-benar lenyap dari dalam dadaku bukanlah uang, melainkan rasa takut yang kalut. Dan yang datang menetap adalah ketenangan sejati yang tiada taranya. Tiada lagi harapan yang melangut
Kini, waktu telah berjalan jauh meninggalkan masa-masa penuh misteri itu. Jika hari ini ada orang yang berkunjung ke rumahku yang sekarang berpindah ke kompleks Perum Puri Praja Kencana, yang tidak lagi bisa melihat hamparan sawah atau ladang tebu seperti dulu, lalu bertanya, "Pak, apa rahasianya Toko BISMILLAH ini bisa tetap awet dan bernapas panjang?"
Aku hanya akan melempar senyum penuh makna, lalu berkata, "Hanya dengan BISMILLAH aku melangkah, Pak."
"Namanya BISMILLAH. Dan sejatinya, isinya adalah BERSERAH."
Karena dari peristiwa malam yang puitis dan penuh arti itu, aku memahami satu makrifat hidup: yang menjaga niaga ini bukanlah gembok-gembok besi yang kokoh. Yang mengawal rezeki ini bukanlah kelicikan, keculasan atau penjagaan ketat sepasang mataku atau bersekutu dengan setan gunung Kemukus dan Kawi. Hanya Allah-lah Sang Penjaga Agung yang tak pernah tidur atau mati suri
Allahu Akbar.
TAMAT
✍ArtoLatif
Pemalang, 4 September 2026
Dari sudut syahdu Toko Bismillah, yang sekarang berniaga di dunia Maya secara sederhana.